Aku, Kau, dan Sepotong Cinta Yang Rumit

“Aku tahu perasaanmu. Tapi tolonglah, jangan buat aku merasa bersalah dengan keputusanku. Sejujurnya ini bukan tentang kau dan aku semata. Ini tentang aku, kau dan CINTA yang rumit.”

Tapi kamu protes mendengar perkataanku.

“Jika cinta serumit itu, mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Mengapa DIA pisahkan kita? Mengapi DIA mengambilmu saat aku benar-benar merasa bahwa kaulah pelabuhan terakhirku? Sungguh, aku belum siap dengan semua ini.”

Ah pertanyaan itu di luar kemampuanku. Aku tahu kau akan mengatakan semua itu. Aku kembali meraih tanganmu, berusaha menenangkan dirimu. Semuanya terasa lebih sulit. Dengan sisa-sisa keberanianku, aku berkata lagi.

Baca juga :  Aleteia

“Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan. Kita hanya perlu menerimanya. Jangan lupa, Tuhan pun tak mau kita terluka. Awalnya, aku juga berpikir untuk membenci Tuhan, karena DIA menunjukkan cinta-Nya pada kita dengan memisahkan kau dari aku. Ini tidak masuk akal. Sungguh tidak adil. IA membutuhkanku ketika aku juga membutuhkanmu. Aku tak tahu apa yang Tuhan pikirkan ketika memilih aku. Aku belum mengerti. Tapi aku sadar DIA tidak pernah salah membuat keputusan. Kadang Tuhan hanya bisa dipahami ketika kita berusaha untuk tidak memahami diri-Nya. Mungkin Tuhan ingin kita belajar bahwa cara tersulit pun bisa menjadi jalan terbaik untuk kita berdua.”

Baca juga :  Cintaku Melampaui Dosamu | Cerpen

Aku tak tahu dari mana kata-kata itu muncul. Semuanya seperti sudah disiapkan. Aku kembali menatapmu, berharap menemukan sedikit kejaiban. Entah kenapa, kau mulai membuka diri untuk memahami hal tersulit ini.

“Jika itu keinginan Tuhan, pergi dan ikutilah. Jangan khawatirkan diriku. Aku akan baik-baik saja. Aku percaya, jika Tuhan mencintaimu, Dia pun akan melakukan hal yang sama padaku. Setialah kepada apa yang sudah kamu putuskan. Jangan menunggu. Tapi ingat, jangan kecewakan Tuhan dan aku.”

Baca juga :  Anakku, Tetelestai!!!

Aku sedih sekaligus bahagia mendengar ucapanmu. Ah, aku beruntung pernah mengenalmu dalam hidup. Aku ingat, kita melewati malam itu dalam kebahagiaan yang hampir sempurna. Kini aku sadar, “Kebahagiaan terbesar manusia adalah berada dalam cinta TUHAN.” Semoga kaupun menyadarinya.

Untuk Imam Baru..😇