Aku ingat saat kau marah kala melihat diamku di hadapan ceritamu. Kau cemberut, membuang muka. Kau tak lagi peduli padaku. Biarlah. Mungkin itu jauh lebih baik. Setidaknya aku bisa punya kesempatan untuk bergulat dengan hatiku. Aku sadar, aku bukan orang yang tepat untuk berbagi rasa, jika itu yang kau inginkan dariku malam itu.
Aku ingat ketika memegang tanganmu
Aku ingat ketika memegang tanganmu agar kuat untuk mengatakan apa yang paling benci kukatakan. Oh semesta, sanggupkah aku mengungkapkan semua ini? Mengapa malam ini terasa begitu panjang?
“Aku mencintaimu.” Aku mulai berkata. Ah, itu ucapan paling menyakitkan yang pernah keluar dari mulutku. Engkau tetap diam. Sungguh, diammu melukaiku. Kau kemudian berbalik, menatapku. Mungkin kau merasa betapa anehnya malam itu? Tidak seperti biasanya. Ah, malam itu kita seperti dua orang asing yang baru saja saling bertemu.
“Kau kenapa?” Tanyamu penuh selidik, tak mengerti dengan perubahan sikapku. Ah, kini aku merasa seperti seorang penjahat yang dihakimi karena telah melukai banyak orang. Kukuatkan hatiku agar aku mampu melewatkan malam ini lebih cepat.
“Kekasihku, izinkan hatiku berbicara malam ini.” Aku mulai berkata lagi. “Aku ingin mengikuti jalan Tuhan.
“Apa maksudmu?” Kau bertanya tak mengerti dengan pembicaraanku. Aku menarik nafas. Berat. Kukuatkan hatiku, agar kata-kataku tidak berbalik menusukku. Dengarlah, wahai kekasihku cerita dari hati yang tengah memendam duka.
“Aku telah memilih untuk membuat kita berdua sakit. Aku ingin hidup yang tidak biasa. Aku ingin melawan arus. Aku yakin, hanya itu cara untuk bahagia. Mungkin aku egois karena menuntutmu untuk mengikuti apa kata hatiku. Kuputuskan untuk memilih jalan ini bukan karena aku benci padamu. Tidak, Aku tak sekejam itu. Cintakulah yang cepat sekali berubah. Tidak lagi untuk memilikimu, tetapi membuatmu bebas dalam mencintai. Mungkin kau perlu jadi bulan di malam yang lain. Aku tak bisa menolak apa yang Tuhan inginkan dariku. Ya, aku memang egois. Tapi itu bukan keinginanku. Aku ingin kau mengerti cinta tak semudah kata orang. Kadang, kita harus bersedia berkorban deminya, karena dalam luka kau dan aku dapat mengerti bahwa mencintai itu bukan perkara mudah.”
Aku berhenti sejenak, mengumpulkan semua kekuatanku.
“Sekarang aku ingin kita belajar untuk melupakan kisah dulu. Biar kita menulis cerita baru dengan kisah hidup masing-masing. Aku tahu, ini berat, buat aku dan kamu, tapi kita harus mencoba.”
Aku ingat ketika kamu menangis setelah mendengar semuanya. Menyakitkan. Sungguh aku tak ingin berada dalam situasi seperti itu. Ah, pria siapakah yang tidak akan luluh di hadapan tangisan kekasih yang sungguh dicintainya?
“Aku tak ingin kamu seperti ini.” Aku berkata lagi. “Aku tak ingin membuatmu sedih, tapi aku tak bisa mengubah kenyataan ini. Aku terlalu lemah untuk itu. Maafkan aku.”
Kau tetap menangis. Ah, airmata itu. Kau membuatku terpasung dalam perasaanku sendiri. Kini aku sadar, luka itu ada. Kau merasakan itu, dan aku tak bisa berbohong bahwa aku tak merasakannya. Dulu aku berpikir bahwa cinta itu hanya mengenal keindahan. Tapi aku sadar, cinta pun memegang belati ditangannya, siap melukai. Tapi coba kau tanyakan pada semesta, apakah cinta pernah menolak luka? Entahlah, aku sendiri belum menemukan jawabannya. Semua masih misteri.
Setelah sekian lama berada dalam keheningan yang mencekam, kau mencoba melawan keadaan. Kau menatapku setelah menyeka airmatamu. Kemudian dari bibirmu yang terus bergetar kau berkata:
“Mengenalmu adalah hal terindah yang pernah kumiliki dalam hidup. Bersamamu aku belajar untuk mencintai hari demi hari. Kau tahu, aku sungguh menikmati berada bersamamu setiap hari. Aku mencintaimu, dan aku yakin tidak salah menempatkan cinta ini pada hati seperti hatimu. Kau tahu itu. Terimakasih untuk semuanya. Rasanya berat untuk hidup tanpa dirimu. Tapi aku pun lemah di depan kerumitan ini.”
Ah kau tahu, kata-katamu sungguh menghancurkanku. Memoriku tak lagi bekerja dengan baik. Apalagi hatiku. Aku tak ingin lagi mengatakan apa-apa, tapi hatiku kembali mendesakku.

Menamatkan Studi S1 di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Staf pengajar di SMA Pancasila, Borong. Tinggal di Paroki Borong.