Sebagai misal, di taman kebangkitan milik para Claretian Delegasi Indonesia-Timor Leste, ada tulisan, “Tuhan, berilah aku jiwa-jiwa”. Ungkapan ini, yang terinspirasi dari kata-kata Claret, memiliki arti supaya jiwa-jiwa juga turut merasakan nikmat dan manisnya hidup dekat dengan Tuhan setelah kita dekat dengan Tuhan. Atau contoh lainnya dalam lagu berjudul “Konsekrasi” ada lirik “… mencintailah, lewat aku”, agar orang lain juga turut merasakan keindahan cinta Bunda Maria melalui diriku yang telah merasakan cinta Bunda Maria yang begitu manis.
Mencetak Buku: Usaha Claret Melawan Kejahatan
Pertanyaan bagi kita adalah bagaimana kita bisa menjadi garam dan terang dunia dalam situasi zaman yang serba digital ini? Bagaimana kita menanggapi situasi zaman yang sudah terlanjur suka dengan berita-berita bombastis yang sebenarnya tidak memiliki makna dan tiada kebenaran di dalamnya, di era post-truth ini? Bagaimana kita memosisikan diri agar orang-orang turut merasakan nikmat dan manisnya hidup dekat dengan Tuhan?
Bapa Pendiri Kongregasi Putra-putra Hati Tak Bernoda Maria, St. Antonius Maria Claret sejak kecil sudah berupaya dan berusaha untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Ketika berumur lima tahun, dia sudah memikirkan orang lain, dalam arti keselamatan jiwa-jiwa. Bertolak dari itu, sejak kecil Pater Claret memang sudah selalu berusaha dengan semua cara dan sarana yang mungkin untuk bisa menjadi garam yang memberi rasa kepada dunia yang hambar dan menerangi dunia yang cenderung murung dalam gelap.
Dalam Autobiografinya, Pater Claret membeberkan sarana-sarana yang dipakainya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Salah satu sarana yang dipakainya untuk orang lain bisa merasakan nikmat dan manisnya hidup dekat dengan Tuhan adalah dengan mencetak buku-buku (di kemudian hari, Pater Claret membangun Perpustakaan Religius).
Misionaris Claretian penghuni Komunitas Teologado Claretiano de Centroamérica, El Salvador