Intinya, seorang guru haruslah menggunakan metode penjelasan. Guru wajib memberi penjelasan kepada para murid agar terjadi proses transfer pengetahuan dari guru yang tahu ke murid yang belum tahu, dan pada saat yang sama membuat para murid mampu secara bertahap maju dalam memiliki pengetahuan yang sederhana ke pengetahuan yang lebih kompleks.
Akan tetapi, keyakinan Jacotot atas metode menjelaskan (explicate) rupanya bukan segala-galanya, runtuh dan sangat problematis. Pada tahun 1815, ketika terjadi perubahan rezim politik di Prancis, Jacotot pindah ke Belanda dan berapa tahun kemudian (1818) Jacotot mendapat kepercayaan dari raja Belanda untuk mengajar di Universitas Louvain.
Transformasi Metode Jacotot
Di situ ia mendapat tugas mengajar bahasa Prancis. Cara mengajarnya sangat menyenangkan bagi para murid, dan Jacotot mendapat apresiasi atas cara mengajarnya itu sehingga para murid bersungguh-sungguh untuk belajar bersamanya. Yang menjadi persoalan adalah para muridnya tidak tahu bahasa Prancis dan Jacotot tidak tahu bahasa Belanda (Flemish). Karena itu, tidak ada bahasa yang mampu membuat Jacotot mengajari apa yang para muridnya cari dari dia.
Untuk mengatasi hal itu, dibutuhkan suatu benang merah yang menyatukan antara Jacotot dengan para muridnya. Maka itu, tulis Rancière, dibutuhkan suatu hal yang sama (a thing in common) yang mampu menjadi jembatan antar keduanya. Pada saat yang sama, telah diterbitkan buku Télémaque karya Fénelon edisi dua bahasa (Belanda-Prancis) di Brussel.
Baca Juga:
Maka, hal yang sama (thing in common) telah ditemukan. Jacotot membagikan buku tersebut dan meminta kepada para muridnya, sambil dibantu oleh penerjemah, untuk mempelajari teks bahasa Prancis sambil pula membaca terjemahan bahasa Belanda. Pada saat mereka telah mempelajari setengah dari buku terseut, Jacotot meminta para muridnya untuk terus-menerus membacanya sampai memahami penjelasan dari bacaan tersebut. Kemudian, Jacotot meminta mereka untuk membaca lanjut keseluruhan buku tersebut agar mereka mengetahui alur cerita tersebut.
Hingga kemudian Jacotot meminta kepada para muridnya itu untuk menulis kembali cerita Télémaque yang telah mereka baca. Sebenarnya, tidak ada harapan dari Jacotot akan besarnya keberhasilan yang sempurna dari para muridnya dalam menulis kembali cerita tersebut dalam bahasa Prancis. Jacotot yakin bahwa akan ada banyak kesalahan penulisan, barbarisme yang kuat (horrendous barbarisms) ataupun ketidakmampuan para murid dalam mengerjakannya. Jacotot menyadari bahwa belum ada penjelasan apapun tentang bahasa Prancis (Rancière, 1991:2).
Akan tetapi, Jacotot begitu terkejut dengan apa yang ia saksikan. Bahwa para muridnya dapat melewati tantangan tersebut dengan baik. Mereka ternyata mampu membuat kalimat-kalimat dalam bahasa Prancis tanpa penjelasan sebelumnya!
Kemauan dan Kehendak: Kunci Keberhasilan
Pengalaman ini membuat Jacotot sadar bahwa kemauan atau kehendak para muridnya mengantar mereka kepada keberhasilan dalam berbahasa Prancis. Jacotot mulai berpikir bahwa semua manusia memiliki kemampuan yang sama untuk memahami sesuatu yang sesamanya paham dan lakukan.
Bila ada kemauan atau kehendak, seseorang bisa belajar apapun tanpa guru penjelas. Jacotot melihat adanya kesetaraan (égalité) yang harus diandaikan sebagai titik berangkat bagi semua aktivitas pembelajaran.
Menurut Jacotot, intelegensi harus dipisahkan dari kehendak. Di sinilah terjadi yang namanya emansipasi yang berarti keterlepasan hubungan dominasi guru terhadap para muridnya. Dalam arti tertentu, seseorang hanya bisa mengajar apa yang muridnya tidak ketahui. jika murid tersebut termansipasi, dengan maksud membiarkan siswanya menggunakan intelegensinya sendiri.
Intelegensi murid adalah bebas, tidak tunduk pada siapa pun. Dan menghubungkan dirinya secara bebas dengan intelegensi sesuatu yang hendak ia pelajari. Dan Jacotot percaya bahwa setiap manusia memiliki kemampuan intelegensi yang sama (Wibowo, 2013:26).

ClaretPath.Com adalah ruang pengembangan bakat menulis dan media kerasulan, terinspirasi dari Santo Antonius Maria Claret, Pelindung Pers Katolik.